Ketika Ilmu Semakin Bertambah

tumpukan-bukuSemisal kita adalah warga sebuah desa, dan sudah tinggal di situ bertahun-tahun. Serta hafal semua jalan-jalan desa, hafal letak-letak rumah tetangga, dan lain sebagainya. Maka keilmuan kita atau pengetahuan kita seputar desa pasti sudah menguasai, kita merasa lebih tahu desa yang kita tinggali dari pada orang-orang yang berusia di bawah kita. Kemudian kita yang menganggap diri kita ini tahu seluk-beluk seputar desa, pergi merantau ke ibukota Jakarta. Ketika masih di desa, berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga, jalan-jalan desa, kita seolah sudah yang paling tahu soal desa. Namun ketika keluar sedikit dari area desa, sampai kabupaten katakanlah, maka apa kira-kira yang terjadi? Hmm… ternyata banyak sekali jalan-jalan asing yang belum kita lalui, banyak rumah-rumah lebih megah yang belum kita lihat, banyak rambu-rambu lalu lintas yang jarang kita jumpai.

Itu baru di kabupaten. Ketika sudah melewati beberapa kota, maka mata kita yang ‘wong ndeso’ ini semakin terbelalak, ternyata banyak sekali ya kota-kota beralun-alun bagus, berbangunan bagus, pusat-pusat perbelanjaan yang banyak ditemukan.

Ketika sudah sampai ibu kota Jakarta, mata kita dibuat lebih heran dan kagum lagi. “Oh ternyata, seperti ini bangunan pencakar langit itu.” Kita juga baru merasakan polusi yang tak didapatkan di desa, kemacetan yang tak ada di desa.

Sehingga dari perjalanan desa – ibu kota Jakarta itu, kita jadi tersadar,” Aku yang dulunya merasa paling tahu dengan hanya mencukupkan pengetahuan tentang desaku, ternyata saat berkelana jauh, banyak sekali hal-hal baru yang belum aku tahu.” Itu baru perjalanan desa – ibu kota Jakarta, belum lagi kalau ke luar negeri, berapa banyak lagi hal-hal yang akan didapat.

Ya, permisalan ini seperti penuntut ilmu. Dulu sewaktu TK, baru tahu gerakan shalat. Kemudian SD, sudah menguasai bacaan-bacaan shalat, gerakannya semakin bagus. Naik tingkat SMP, sudah berkembang lagi. Menuntut ilmu terus, hingga tahu beberapa perbedaan pendapat dalam qunut Shubuh katakanlah, perbedaan pendapat posisi duduk untuk shalat dua rakaat katakanlah. Dan saat tersadar, ternyata semakin banyak mencari ilmu, semakin terungkaplah kebodohan-kebodohan dan hal-hal yang belum kita tahu. Dan dapat menyimpulkan, ternyata yang kita tahu dengan yang tidak itu berbeda jauh sekali, banyak sekali yang belum kita tahu. Sehingga semakin termotivasi untuk tak hanya mencukupkan diri dan ‘mandek’ dengan ilmu yang dipunya, terus dan terus belajar.

Maka tetaplah tawadhu’, tetaplah rendah hati wahai penuntut ilmu. Jangan merasa ‘wow’ dan paling ‘super’ dengan ilmu yang kita punyai sekarang. Dan jangan merendahkan orang yang keilmuannya di bawah kita.

Salah seorang ustadz pernah berkata,” Seiring bertambahnya usia dan ilmu, pandangan seseorang dalam menyikapi sesuatu bisa berubah, tentunya perubahan ini tetap di dalam koridor.”

Seiring bertambahnya usia dan ilmu kita, maka kita akan lebih bijak lagi dalam menyikapi sesuatu. Lebih bisa menghormati perbedaan pendapat selama itu masih masalah furu’ atau cabang. Lebih terbuka, tidak kaku, lisan tidak tajam kepada saudara seiman seakidah.

Semoga tulisan singkat ini, menjadi renungan sekaligus penyemangat untuk kita bersama, bahwa kita menuntut ilmu tak dibatasi oleh waktu, menuntut ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Teruslah menuntut ‘ilmu, hingga Allah lah yang memberhentikan kita ketika kita meninggal. Dan semoga susah payah tholabul ‘ilmi kita ini berbalas jannah Allah. Aamiin.

——-

Kamis, 29 Rabiul Awwal 1438 H
Ponggol, Grabag
Faisal Amri

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *