3 Juz Sekali Duduk, Muhammad Khoirul Umam

15095651_330061647364323_7165797183582993117_n

Mumpung masih anget prestasi yang satu ini. Prestasi dari anak baru gede yang cinta dengan Al-Qur’an. Mengisi hari-harinya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menghafalnya, menyetorkan hafalannya, memurojaah hafalannya. Prestasi anak baru gede, yang jika ayahanda dan ibundanya hadir dalam ujian 3 juz sekali duduk ini, pasti pipi mereka akan basah dengan air mata bahagia. Melihat sang putra bisa seperti itu, menyetorkan hafalan 3 juz dengan lancar, seolah-olah sudah hafal di luar kepala. Allahu akbar.

Anak baru gede ini anak Indonesia, bukan orang Arab yang sedari kecil cas-cis-sus lancar berbahasa Arab. Putra Indonesia, generasi yang akan memajukan negeri ini, biidznillahi.

Anak baru gede yang prestasinya layak menjadi motivasi, penyemangat bagi yang lain. Bagi teman-temannya, bagi para orang tua, dan juga bagi orang di luar sana. Anak baru gede yang tumbuh dalam keadaan menghambakan diri kepada Allah. Bisa menjadi contoh untuk abg-abg lain di luar sana.

Jujur. Yang menguji hafalan pun hampir ‘rembes’ menitikan air mata, karena bangga, karena bahagia, karena syukur. 3 juz sekali duduk, juz 30, 1, dan 2. Dimulai pada pukul 21:11 WIB usai pukul 22:45 WIB, Jumat, 18 November 2016. Dengan lancar pula. Allahu akbar.

Semoga istiqomah selalu menjadi teman setiamu Muhammad Khoirul Umam (siswa kelas 1 SMA Al-I’tishom)

Jadi teringat masa-masa itu, masa putih abu-abu. Saat ada empat santri yang sudah mempunyai 5 juz Al-Qur’an. Ustadz Zen menyuruh kepada empat santri ini untuk menyetorkan 5 juznya, dua santri dari angkatan kedua, dua santri dari angkatan ketiga.

Mereka-mereka ini kian terpacu, kian bersemangat. Waktu-waktu mereka begitu dihargai, lebih dari emas. Mereka menjadikan masjid untuk tempat mereka ‘ngeyup’. Memurojaah hafalan, membacanya berulang, meneliti berapa salah dalam hafalan yang dipunya.

Sampai pada titik itu, di mana salah satu santri ketika selesai setoran Surat Al-Baqoroh secara keseluruhan. Sampai di dua ayat terakhir, suaranya mulai berubah, ia menangis, menangis bahagia. Mungkin gumamnya dalam hati,” Alhamdulillah, aku memuji-Mu Yaa Allah, Kau anugerahi nikmat ini, selesai setoran Surat Al-Baqoroh.” Setelah sampai di akhir surat, bergegas ia sujud syukur, mensyukuri nikmat Allah yang satu ini. Santri itu bernama Muhammad Nuril Huda (mahasiswa semester 1 Fakultas Syariah LIPIA Jakarta)

Setelah selesai 5 juz setoran, Ustadz Zen memberi uang 50 ribu, untuk syukuran. Saya belikan gorengan semua waktu itu hehe….

——-

Senin, 21 Safar 1438 H
Ponggol, Grabag
Faisal Amri (alumnus SMA Al-I’tishom angkatan ketiga)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *