Menyempurnakan Dakwah dengan Belajar

bookKatakanlah: inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu (kepada Allah dengan hujjah yang nyata…). (Yusuf [12]: 108)

Saudaraku,
Sebagai juru dakwah, muballigh, guru, dan murabbi, kita harus melandasi dakwah dengan hujjah yang jelas. Kita harus tahu, mau dibawa kemana orang-orang yang kita dakwahi, siapa yang kita ajak, dan bagaimana cara kita mengajaknya.

Bagi juru dakwah, niat baik saja belum cukup. Masih banyak hal yang harus dipenuhi, satu di antaranya adalah ilmu. Bagaimana kita mengajak orang, sedang kita sendiri tidak tahu kemana mereka kita ajak? Bagaimana kita mengajak orang, sedang kita sendiri belum mengerti siapa orang yang kita ajak tersebut. Bagaimana pula kita mengajak yang efektif jika kita sendiri belum tahu bagaimana cara mengajaknya. Di sini mutlak bagi seorang dai, muballigh, guru, dan murabbi untuk membekali dirinya dengan ilmu yang cukup.

Keyakinan dan niat yang baik merupakan modal dasar untuk berdakwah. Tapi sekali lagi, itu saja masih belum cukup. Seorang juru dakwah tidak boleh “hanya” bermodal nekat. Meskpiun kita mengetahui adanya Hadits “ballighuu anni walau ayat” (sampaikan walau hanya satu ayat), tapi itu harus kita tempatkan secara proporsional. Artinya, Hadits tersebut harus diartikan sebagai cara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk menggugah semangat, menguatkan motivasi, agar kaum Muslimin lebih giat lagi berdakwah tanpa dihantui perasaan takut.

Ilmu akan membantu para juru dakwah yang telah memiliki keyakinan dan niat baik, untuk mendakwahkan Islam dengan hujjah yang benar dan kuat. Tanpa ilmu, hujjah kita bisa jadi sangat lemah. Bagaimana jadinya seorang dai tidak bisa menjawab pertanyaan jamaahnya? Lebih lanjut lagi, bagaimana seorang dai tidak bisa meladeni debat-debat orang-orang yang menyerangnya?

Agar argumen kita kuat, alasan kita masuk akal, dan jawaban serta solusi kita diterima akal sehat dan hati yang bersih, maka kita harus memiliki ilmunya. Kita harus tahu siapa yang kita dakwahi, seberapa ilmunya, apa kecendrungannya, bagaimana pola pikirnya, bagaimana budayanya, dan lain sebagainya. Semakin dalam kita mengetahui subyek dakwah kita, semakin membantu kita saat mendakwahinya.

Dalam kaitan ini, Ali Radhiyallahu anha sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari, ia berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendaki mereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap Allah dan Rasul-Nya?”

Banyak hal yang apabila disampaikan bukan bertambah baik akibatnya. Justru yang terjadi sebaliknya. Masyarakat bukan bertambah mengerti, bertambah paham, tapi justru semakin bingung, dan pada akhirnya, kebenaran yang kita sampaikan justru berbalik menjadi fitnah. Inilah yang harus kita hindari. Berdakwah bukan mengajak orang kepada apa yang kita inginkan, tapi dakwah yang benar adalah mengajak orang kepada yang diinginkan Allah Ta’ala.

Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim, Ibnu Mas’ud mengingatkan, “Engkau tidak layak menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada sebagian orang itu.”

Untuk itu, kita harus membekali diri dengan ilmu, dan secara terus menerus menambah ilmu dengan belajar dan belajar.

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/?p=1962

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *