Tautan
Muhammad Ulinnuha

Muhammad Ulinnuha

Berawal dari status kelulusanku dari SMP N 1 Grabag di tahun 2012, aku berniat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Saat itu ada keinginan untuk mendaftar di sekolah yang terletak di kota. Namun, apa daya saat orang tua tidak mengizinkannya. Aku tahu, bukan tanpa alasan orangtua melarangku untuk melanjutkan sekolah di kota, hingga pada akhirnya aku di daftarkan di sekolahku saat ini.

Ya, orangtuaku akhirnya mendaftarkan di sekolah ini, SMA  AL I’TISHOM. Sebuah yayasan yang didirikan tahun 2008 oleh ustadz Zainal Mustofa Idris. Yang dalam perjalanan kedepannya, beliau yang menjadi salah satu motivatorku.

Berada di tempat yang sebelumnya tidak aku inginkan, membuat diri ini merasa tidak nyaman. Apalagi yayasan ini adalah yayasan boarding school, jadi kita tinggal di asrama. Pada waktu itu, akupun merasa, bagaimana lulusan pondok seperti ini bisa memiliki ilmu umum yang baik, terlebih saat itu, kesan pondok sangatlah rendah. SMA ini adalah sekolah yang memadukan antara pelajaran agama dan umum, terutama eksak. Karena dengan ketidaknyamanan ini,  Aku merasa bahwa ini adalah musibah.

Namaku Muhammad Ulinnuha, generasi angkatan kelima di sekolah ini. Awal masuk, kami se angkatan hanya berjumlah 7. Namun, 2 bulan kemudian, kami bertambah 2 orang. Hingga akhirnya kami berjumlah 9 orang. Seiring berjalannya waktu, aku sedikit banyak memiliki kenalan. Ustadz, ustadzah, teman seangkatan, kakak kelas,  dan lain-lain. Disitu, semua pertanyaan saya mulai terjawab satu persatu. Aku mulai sadar, saat orangtua akhirnya mendaftarkanku di sekolah ini adalah tak lain, karena beliau menginginkan yang terbaik untukku, menjadi sholeh, pintar, dan yang lainnya. Seiring berjalannya waktu pula aku mulai sadar, di sekolah ini, para pengajar adalah mereka yang dengan tulus dan ikhlas, rela meluangkan waktunya untuk mendidik kami. Bagaimanapun caranya, meski dengan fasilitas seadanya. Beliau-beliau adalah sosok-sosok yang telah berhasil dengan cita-cita mulianya, mendidik kami untuk bisa menjadi yang terbaik, baik agama dan dunia. Hal ini yang  menjadi wujud kasih sayang, hingga berhasil menghantarkan anak didiknya melanjutkan di berbagai perguruan tinggi yang ada. Mulai dari yang di UNDIP, UNS, UAD, UIN SUKA, UNSOED, LIPIA, UMM, dan yang lain-lain. Hal ini menjadi bukti, bahwa lulusan pondok juga bisa seperti atau bahkan melebihi kualitas lulusan sekolah luar yang lain. Selaras dengan motto sekolah ini,  WE ARE SCIENTIST AND WE ARE QURANIST.

3 tahun di SMA AL I’TISHOM, bukan tak mungkin tak ada kenangan. Kujalani tiap moment itu, bersama saudara-saudara yang lain. Di pondok ini, aku mengenal kata kebersamaan. Saat kita bercanda bersama, dinasehati ustadz bersama, belajar bersama, dan yang lainnya. Sampai-sampai, angkatan kami memiliki nama yang sampai saat ini masih kami simpan. MARKHOM atau Markhlah Khomis yaitu angkatan kelima. Aku mulai memiliki banyak mimpi dimulai dari SMA ini. mulai bermimpi dapat lulus ujian nasional dengan nilai bagus, lulus ujian pondok, sampai bermimpi untuk bisa belajar di perguruan tinggi seperti kakak kelas yang lain.

‘Life is never flat’. Perjuangan itu ada. Bukan hanya sekedar bermimpi kemudian menjadi nyata. Selama hidup di tempat ini, kami juga berjuang untuk mendapatkan mimpi kami. Belajar sampai larut, tahajud bareng, menjadi ikhtiar kami di akhir tahun ini. Sampai akhirnya, kami berhasil mendapatkannya. Lulus 100 % , nilai bagus. Alhamdulillah. Dan diakhir, inilah kado yang Allah berikan untukku, juga orangtua, dan yang lainnya. Allah mewujudkan apa yang menjadi impianku, dapat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Dan alhamdulillah. Saya lolos SBMPTN dan diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Teknik Fisika. Namun, semua ini adalah awal dari perjuangan selanjutnya.

Seluruh perjalanan dan perjuangan yang telah aku lewati di SMA ini telah menyadarkanku. Bahwa aku harus bersyukur. Semua ini bukanlah musibah belaka, namun anugerah yang menjadi nyata.

Nasihat dari salah satu pengajar, Dr. Ing. Ismoyo Haryanto, ST, MT. Beliau selalu megatakan, “kunci keberhasilan ada 3, yaitu belajar, belajar, dan belajar”. Nasihat itu selalu teringat sampai saat ini. Terimakasih juga kepada ustadz Zainal Mustofa Idris,Lc yang tanpa bosan selalu mengingatkan juga menasihati kami agar bisa menjadi lebih baik lagi. Terimakasih untuk para asatidz dan asatidzah yang telah berjuang membantu kami, angkatan kelima dan saya khususnya, hingga saya dapat seperti ini. Syukron jazakumullah khoiron..

Kepada teman seperjuangan 3 tahun sudah kita bersama, kisah kita tak hanya ada kemudian hilang tak berbekas. Saat ini, kita berada di tempat yang berbeda dengan jutaan mimpi kita yang lain. Namun, kita sadar bahwa yang mempersatukan kita adalah karena kita keluarga dan ukhuwah islamlah. Terimakasih untuk cerita juga perjuangan bersama.

Teruntuk adik kelasku, jalan kalian masih panjang. Gunakan kesempatan yang ada, untuk bisa berubah menjadi yang lebih baik. Perjuangan itu berat. Saat ini kalian sedang ditempa, untuk menjadi insan yang berkualitas. Jalani. Dan bermimpilah. Karena suatu saat, mungkin kalian akan menjadi sosok yang lebih baik dari alumni SMA AL I’TISHOM yang ada. Tetap semangat dan terus berjuang.

“Sebenarnya, bukan karena kurangnya modal atau bakat yang menghalagi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Melainkan karena kurangnya keberanian”.

Masa Depan Suram

Masa depan suram! Itulah kata-kata yang ada dalam benakku tentang pondok pesantren. Berawal dari kelulusanku di SMP pada tahun 2007, Abah menyuruhku untuk melanjutkan di sebuah pondok pesantren di sebuah pondok di Solo. Seiring berjalannya waktu, tidak terasa aku sudah hidup di pondok selama 2 tahun. Namun, aku merasa berada di pondok pesantren tidak memberikan hasil yang memuaskan. Lalu aku memutuskan untuk pindah dari pondok tersebut. Abah mengizinkan pindah, tetapi dengan syarat tetap melanjutkan di pondok, yaitu SMA AL-I’TISHOM. SMA AL-I’TISHOM adalah pondok yang dirintis oleh Abahku sendiri, beliau bernama KH. Zaenal Mustofa Idris.

Lanjut membaca

KABAR GEMBIRA: TAHUN INI SMA AL-I’TISHOM JUGA MENERIMA PUTRI

ASRAMA PUTRISMA Al-I’tishom yang mulai beroperasi mulai tahun pelajaran 2008/ 2009 telah meluluskan sebanyak 4 kali.  Lulusan SMA Al-I’tishom telah menyebar di berbagai Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta di dalam dan luar negeri. Sebagian besar dari mereka mendapatkan beasiswa, di antaranya mendapat beasiswa di UNSOED Purwokerto, UNDIP Semarang, UNS Surakarta, LIPIA Jakarta, KIST Malaysia. Selama itu pula SMA Al-I’tishom hanya menerima siswa putra.

Karena dorongan dari masyarakat, mulai tahun pelajaran 2014/2015 SMA Al-I’tishom menerima siswi putri, agar juga ikut menikmati proses pendidikan di SMA Al-I’tishom. Bagi yang berminat dipersilahkan mendaftarkan putra putrinya di SMA yang mengutamakan prestasi dan membekali siswa-siswinya dengan pengetahuan keislaman ini.